Suasana di lokasi pemerahan susu sapi pada Kelompok Peternak Sapi Desa Karangkendal Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali, Jum’at (20/8/2021).
Boyolali, Media3.id- Kepala Bidang (Kabid) Produksi Ternak Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali, Gunawan Andriyanto mengatakan, semasa pandemi Covid-19 ada tren peningkatan permintaan di Kabupaten Boyolali. Menurutnya hal ini dipengaruhi faktor pada saat pandemi ini kondisi negara penghasil susu mengalami gangguan, baik distribusi maupun produksi, sehingga mengakibatkan suplai ke Indonesia agak berkurang dan menjadikan permintaan susu di dalam negeri meningkat.
“Ada satu faktor yang menonjol, yaitu selama pandemi kesadaran masyarakat kita untuk mengkonsumsi susu cukup tinggi. Dipengaruhi adanya keyakinan bahwa dengan mengkonsumsi susu dapat meningkatkan imunitas,” ungkap Gunawan, Jumat (20/8/2021).

Kabupaten Boyolali memiliki jumlah sapi perah sebanyak 94.000. Jumlah tersebut tetap konsisten selama tiga tahun terakhir ini, meskipun ada peningkatan sekitar 0,5 hingga 1 persen. Dari 94.000 ekor sapi tersebut, Kabupaten Boyolali mampu menyumbangkan 49.000 ton per tahun atau setara 136 ton per hari. Tertinggi di Jawa Tengah atau menyumbang 49 persen.
“Selama pandemi ini permintaan dari KUD meningkat sekitar 50 persen. Jika sesuai kualitasnya, harga bisa tinggi sekali untuk pengiriman atau setor ke KUD. Ada tiga jenjang kualitas, yaitu kualitas A, kualitas B, dan kualitas C. Yang paling tinggi itu kualitas A, dihargai Rp 6.000, kualitas B Rp 5.700 dan kualitas C Rp 5.500,” kata Gunawan memungkasi.
• (Shaleh Rudianto)






