Retribusi Anjlok, Raihan Pendapatan Asli Daerah Hanya Baru 38 Persen

  • Whatsapp

PPKM Darurat mengakibatkan kondisi Pasar Banjar hampir lumpuh. Hal ini berdampak juga kepada raihan retribusi pasar, sehingga PAD anjlok. Foto: Iman

BANJAR, Media3.id – Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak kepada kesehatan, namun berdampak juga terhadap sektor perekonimian di masyarakat.

Kondisi memprihatinkan bukan hanya dirasakan pelaku usaha namun berimbas buruk pula terhadap sektor penggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Banjar.

“Kondisi pasar sepi. Kondisi merugi ini dirasakan juga oleh PKL lainnya,” ujar warga Pasar Banjar, Dadang Suherman, Jumat, 16 Juli 2021.

Menurut Dadang, yang dialami oleh warga Pasar Banjar ini dialami juga oleh tukang becak, tukang parkir serta pelaku usaha lainnya yang mengandalkan pendapatan harian dari kehidupan perekonomian di Pasar Banjar.

“Termasuk juga tukang ojek, sopir angkot dan kuli angkut. Semua terkena imbas akibat PPKM Darurat yang membuat Pasar Banjar menjadi lumpuh,” katanya.

Hal serupa dialami oleh para pelaku usaha yang biasa memasok dagangan ke Pasar Banjar, baik berupa hasil bumi, perikanan serta kebutuhan masyarakat lainnya.

“Sehingga masyarakat jadi malas berbelanja karena harus putar-putar jalan dengan rute yang jauh saat menuju tujuan,” ujarnya.

Kenyataan ini secara otomatis, berdampak pada enggannya pedagang membayar retribusi selama pandemi Covid-19 sekarang ini.

“Kalau pun ada uang, kami lebih mendahulukan untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari dibanding bayar retribusi pasar.”

Lebih lanjut dia menambahkan, warga pasar bukan minta PPKM dihapus.

“Sekarang warga pasar hanya minta kebijakan dari walikota tentang kewajiban tutup, jangan ditotalkan. Kami minta durasi jam buka pasar diperluas, misal dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00 WIB untuk pedagang non sembako,” harapnya.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (KUKMP) Kota Banjar, H. Edi Herdianto mengakui, saat kondisi ekonomi masyarakat dan pelaku usaha tak stabil, berakibat sulitnya menarik retribusi.

“Sebelum menarik retribusi saat pandemi ini, kami banyak berpikir ulang. Banyak pertimbangan yang kami pikirkan karena semua merasakan dampak dari covid ini,” kata dia.

Lanjut Edi, sehingga Pendapan Asli Daerah tahun 2021 ini diprediksi tidak akan maksimal.

Kepala Bidang Perdagangan DKUMP Banjar, Mamat Rahmat menjelaskan, dari target Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp 1,9 miliar tahun 2021, sampai 14 Juli 2021 yang baru direalisasikan hanya 38,69 persen saja.

“Dari target PAD sebesar Rp 1,9 miliar, tingkat capaian baru Rp 741.312.981 atau 38, 69 persen. Saat ini, tersisa Rp 1.174.674.119 lagi,” ujar Mamat kepada Redaksi Media3, Jumat (16/07/2021).

Menurut Mamat, pada dasarnya semua ditarik retribusi, tetapi dengan adanya penutupan sementara jenis tertentu ini, juga berdampak terhadap penarikan retribusi.

“Berawal dari adanya Covid-19, akhirnya berdampak luas. Sampai raihan Pendapatan Asli Daerah pun terkena dampaknya,” kata dia.

(Iman)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *