Sejahterakan Diri Di Tengah Pandemi, Warga Gagas Pasar Tradisi

  • Whatsapp

Yogyakarta, Media3.id- Pandemi tidak hanya membuat banyak orang putus asa, masih banyak yang berjuang dan melanjutkan hidup. Dengan daya kreativitas dan semangat gotong royong, kembali menggerakkan roda perekonomian. Demi keluarga, anak-anak yang harus sekolah dan para orang tua yang lebih tidak bisa berbuat banyak. Hal inilah yang dilakukan sekelompok kecil warga RT.02 Dusun Karanggeneng, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Keadaan warga desa ini semakin rumit ketika Merapi siaga. Dipikir sederhananya begini: untuk apa orang pergi berwisata ke daerah mereka disaat pandemi dan Merapi pun bisa bergejolak kapan saja; tentu takkan ada yang mau.
Sedangkan di desa yang terletak 11 kilometer dari Merapi ini mayoritas warganya berprofesi sebagai pelaku wisata.

Alih-alih pasrah dan menyerah, warga desa justru membuka wisata baru. Pasar Tradisi Majapahit menjadi harapan baru bagi warga Dusun Karanggeneng, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman untuk menggerakkan ekonomi. Sadar tidak bisa terus diam saja, Pasar Tradisi Majapahit ini benar-benar dibuat dengan uang hasil patungan kas RT.

Bermodalkan uang 12 juta rupiah dan tenaga untuk membangun pasar, kini warga Dusun Karanggeneng bisa merasakan hasil kerja kerasnya. Pembukaan Pasar Tradisi Majapahit pada 29 November 2020 yang lalu berjalan lancar dan sangat ramai pengunjung.

“Nama Majapahit terinspirasi dari Patih Gadjah Mada. Menyatukan segala sektor, di antaranya seni, budaya, dan ekonomi jadi satu. Artinya, kita mempersatukan semua elemen masyarakat,” ungkap Nartukiyo, warga Karanggeneng yang juga penggerak gagasan pasar tradisi ini.

Area Pasar Tradisi Majapahit terbilang luas, menempati lahan seluas 2.000 meter persegi. Tersedia parkir khusus mobil dan motor yang berada di kawasan berbeda. Parkir mobil di depan pasar dan parkir sepeda motor di area dekat gerbang utama bertuliskan Pasar Tradisi Majapahit. Setelah parkir, kamu tinggal menyusuri jalan setapak dari semen dan menukarkan uang rupiah dengan dhono di gubuk yang letaknya persis di samping kiri pintu masuk.
Uniknya, Pasar Tradisi Majapahit meminimalisir penggunaan plastik. Diganti dengan keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.


(Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *