Diksar Menwa UNS Tewaskan Gilang, Polisi Duga Ada Tindak Kekerasan

  • Whatsapp

Gibran sesalkan kegiatan diksar menwa yang memakan korban tewas.

Surakarta, Media3.id- Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Gilang Endi Saputra meninggal saat melaksanakan kegiatan pendidikan dasar resimen mahasiswa (Diksar Menwa) pada minggu ini.
Pihak Universitas langsung menghentikan sementara kegiatan tersebut usai meninggalnya Gilang.

“Kita langsung menghentikan sementara kegiatan diksar ini, terutama kegiatan kegiatan fisik yang dilakukan di lapangan. Untuk sementara ini, kita hentikan semuanya dan melakukan evaluasi apa yang kurang dan harus kita lengkapi, ” ucap Prof. Ahmad Yunus, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Senin (25/10/2021).

Pihak kampus, lanjut Ahmad, juga melakukan pendampingan kepada keluarga korban hingga proses autopsi. Proses autopsi diserahkan sepenuhnya kepada polisi untuk mengetahui penyebab kematian korban.
“Kami juga melakukan autopsi atas izin pihak keluarga untuk mengetahui penyebab kematian. Biaya akan ditanggung pihak kampus. Proses autopsi ditanggung oleh pihak kepolisian,” terang Ahmad.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Sutanto, mengatakan dirinya sempat mendampingi panitia saat diperiksa kepolisian.
Berdasarkan pengakuan pihak panitia, kegiatan itu dilakukan mulai tanggal 23 Oktober, mulai dari penyambutan pukul 06.00 WIB sampai kegiatan berakhir pukul 23.00 WIB.

Pada hari pertama tersebut, kegiatan yang dilakukan antara lain penyambutan di Markas Menwa, GOR UNS, musala Fakultas Teknik dan jembatan Danau UNS. Saat itu Gilang sudah merasa kram.
“Almarhum sudah menyampaikan pada tanggal 23 Oktober 2021, ada kakinya yang kram. Itu oleh pihak Menwa dicarikan pendamping. Nah itu kejadian di tanggal 23, artinya belum ada tanda-tanda secara fisik ada kelelahan dan sebagainya,” papar Sutanto, Selasa (26/10/2021).

Kemudian pada hari kedua, 24 Oktober 2021, kegiatan dimulai dari selepas salat subuh dengan kegiatan senam dan apel pagi. Kemudian ada satu kegiatan yang dilakukan di dekat kampus, yakni rappeling di jembatan Jurug.
“Setelah kegiatan (rappeling) selesai, balik ke kampus, ketika balik ke kampus ini, yang bersangkutan memang mengeluh sakit punggung. Terus kemudian, pada jam 14.00 WIB, yang bersangkutan mendapatkan perawatan dengan dikompres di kepala,” ungkapnya.

Hingga kemudian Gilang mengalami kondisi tidak sadarkan diri sampai pukul 21.00 WIB. Kemudian panitia membawa Gilang ke rumah sakit, namun meninggal saat perjalanan.
“Di sini tertulis 22.05 itu yang bersangkutan di dalam mobil, dalam perjalanan menuju RS. Pengakuan dari pihak panitia, kok sudah tidak bernapas. Sampai ke RS Moewardi, memang benar sudah dinyatakan meninggal dunia,” kata Sutanto.

Sutanto menambahkan, Senin 25 Oktober 2021, pihak UNS mengumpulkan seluruh panitia. Sebanyak 21 orang kemudian dimintai keterangan oleh polisi.
“Hari Senin pukul 07.15 WIB kami kumpulkan keseluruhan panitia. Saat itu bergabung dengan kami, dari Polsek Jebres, disusul kemudian dari Polresta Surakarta. Setelah itu dilanjutkan ke TKP dan pengumpulan barang bukti,” terang Sutanto.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol M Iqbal Alqudusy, mengungkapkan, pihaknya menemukan tanda kekerasan di tubuh Gilang. Polisi menduga Dirga meninggal dunia akibat pukulan di kepala.
“Korban meninggal diduga akibat terjadi penyumbatan di bagian otak. Untuk berapa titik saya belum bisa sebutkan. Namun dari visum ada tanda-tanda kekerasan,” ungkap Iqbal, Selasa (26/10/2021).

Dalam mengusut kasus ini, polisi telah memeriksa 18 saksi. “Belum ada tersangka, pemeriksaan dilakukan secara maraton. 8 orang saksi dari peserta, 9 orang saksi dari panitia, dan 1 orang dosen semua sudah kami periksa. Dan autopsi terhadap jenazah Gilang dilakukan oleh Biddokes Polda Jateng yang dipimpin Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti bertempat di RSUD dr. Moewardi,” jelasnya.

Sementara itu Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menyesalkan kejadian ini. Tidak hanya itu, menurutnya kejadian ini disebutnya membuat malu.
“Yang jelas saya sangat menyayangkan kejadian seperti itu, bikin malu,” ujar Gibran kepada pewarta, Selasa (26/10/2021).

Ia meminta agar kasus ini diusut tuntas. Sehingga, kasus ini bisa diungkap secara transparan.
Gibran berharap kejadian ini tidak akan terulang kembali ke depannya. Salah satunya adalah dengan melakukan pengawasan dan pelaksanaan diksar tidak secara berlebihan.

Tak hanya itu, Gibran juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat terkait dengan insiden meninggalnya mahasiswa semester tiga itu. Sebagai, Wali Kota Solo dirinya mengaku bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
“Kejadian apapun yang terjadi di Solo itu ya menjadi tanggungjawab saya,” ucapnya memungkasi wawancara dengan pewarta.


• (Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *