Penjelasan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Cimahi Terkait Harga Beras

  • Whatsapp

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Cimahi, Achmad Nuryana

CIMAHI, Media3.id – Terkait pemberhentian Pj. Walikota Cimahi H. Dikdik Suratno Nugrahawan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Carnavian pada Sabtu 7 Oktober 2023 lalu, dengan alasan inflasi harga beras tinggi di Cimahi.

Read More

 

Menurut Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Cimahi, Achmad Nuryana, pekan lalu menerangkan, bahwa di Cimahi baik setiap Minggu atau setiap bulan selalu ada pemantauan dari pusat.

 

“Berdasarkan instruksi dari Kemendagri, setiap hari kita menginput data harga bahan-bahan pokok di tiga pasar milik pemerintah,” papar Achmad.

 

Jadi, lanjut Achmad, dari pihak Kemendagri mengukur Indeks Perkembangan Harga (IPH).

 

“Ya memang di bulan Mei ada kenaikan harga cabai dan bawang, dan kita Cimahi di peringkat enam terbawah se Indonesia,” imbuhnya.

 

Tapi, setelah dilakukan koreksi dan diinput, tidak tahu data dari mana lalu terkoreksi.

 

“Kita lompat jauh diperingkat ke 264, sebenarnya kita sudah aman bahkan sampai sekarang IPH kita relatif stabil,” jelasnya kembali.

 

Jadi kata Achmad, tugas dari TPID itu adalah untuk memantau perkembangan harga, kemudian melakukan langkah-langkah antisipatif untuk memberikan masukan kepada pimpinan.

 

“Kemarin juga pada saat harga beras naik di bulan September, kita memberikan masukan kepada pimpinan agar segera untuk melakukan operasi pasar,” ungkapnya.

 

Bahkan, operasi pasar di Cimahi sudah dilakukan beberapa kali bersama Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian (Disdagkoperind).

 

“Kemudian kita menyalurkan Rastrada dari cadangan pangan daerah kita, bantu 52 ton beras yang disimpan di gudang Bulog dan diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu,” ujar Achmad.

 

Sedangkan mengenai operasi pasar, Pemerintah Kota Cimahi bekerjasama dengan Bulog dengan menyediakan harga beras murah.

 

“Itu dilakukan untuk menjaga harga pasar, sebenarnya harga beras di pasar Cimahi itu cukup stabil, kemarin harga beras yang medium harganya Rp 13.017/kg, bahkan kita sudah pantau di Padalarang KBB ada yang harganya Rp 13.500/kg,” beber Achmad.

 

Diakuinya pula, karena di Cimahi tidak punya Pasar Induk, maka para pedagang di Cimahi membelinya dari pusat-pusat pedagang di Bandung.

 

“Ada terjadi mekanisme pasar sehingga pedagang-pedagang di Cimahi adalah konsumen dan bukan produsen, jadi beli ke Bandung, itupun bisa jadi ada sedikit selisih harga karena di Pasar Caringin ke Cimahi ada biaya transportasi, jadi menurut kami itu masih dalam batas-batas yang normal,” ulasnya.

 

Ia juga menerangkan, bahwa pihaknya setiap hari melakukan pemantauan.

 

“Bila ada terjadi harga yang melejit, kitapun melakukan penekanan harga agar bisa menjadi stabil,” tandas Achmad.

 

(Sinta)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *