Dikatai Tolol, Tukang Bangunan Bunuh Dosen UIN Solo 

  • Whatsapp

 

Wahyu Dian Silviani, dosen UIN Raden Mas Said Solo yang tewas dibunuh oleh seorang tukang bangunan. (Foto: dok. Polres Sukoharjo)

Read More

SOLO (Jateng), media3.id– Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Solo Wahyu Dian Silviani (34) yang ditemukan meninggal dengan tanda-tanda kekerasan, diketahui merupakan anak dari guru besar Universitas Mataram.

 

“Berdasarkan informasi, keluarga akan menjemput jenazah untuk dibawa kembali ke Mataram. Sebagai bentuk penghormatan. Pihak kampus juga akan mengantar jenazah Wahyu Dian Silviani sampai ke Mataram untuk dimakamkan”, terang Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Solo, Rahmawan Arifin.

 

Sementara itu, rekan kerja korban, Fuad Hasyim mengatakan, Wahyu Dian Silviani adalah sosok dosen muda yang pendiam dan tidak banyak memiliki masalah dengan orang lain. Ia juga dikenal sosok yang bisa menjaga diri dan tidak banyak protes.

 

Fuad juga membenarkan jika Wahyu Dian Silviani saat ini tengah fokus mengikuti seleksi beasiswa LPDP untuk lanjut kuliah di luar negeri melanjutkan kuliah. Bahkan, saat terakhir bertemu, korban juga membicarakan tentang progres seleksi beasiswa tersebut.

 

Kapolres Sukoharjo AKBP Sigit mengatakan, jenazah Dian Silviani ditemukan di dalam rumahnya di Perumahan Graha Sejahtera, Desa Tempel, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, pada Kamis (24/8) pukul 13.32 WIB. Kapolres mengatakan, berdasarkan informasi warga, korban merupakan seorang dosen di UIN Raden Mas Said Solo.

 

“Ada tanda-tanda kekerasan. Sementara info dari tetangga begitu. Saat ini tengah ditangani di RSUD Dr Moewardi Solo untuk dilakukan pemeriksaan,” ungkap kapolres.

 

Kapolres juga mengungkapkan kronologi pembunuhan terhadap dosen UIN Raden Mas Said Surakarta, Wahyu Dian Silviani (34), yang dilakukan oleh seorang tukang bangunan, bernama Dwi Feriyanto (23).

 

“Duduk perkara dimulai pada Senin (21/8), saat Wahyu Dian Silviani datang menengok rumahnya yang tengah direnovasi oleh Dwi Feriyanto dan rekan-rekannya. Saat itu sekira pukul 08.30 WIB. Korban menggerutu kepada pelaku dengan perkataan ‘tukang kok amatiran’. Hal itu berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Pelaku merasa sakit hati karena merasa sudah bekerja dengan baik, pelaku merasa dendam,” kata Kapolres, Jumat (25/8/2023).

 

Menurut keterangan pelaku, lanjut Kapolres, saat itu Wahyu Dian Silviani melontarkan kata-kata lain bernada menghina, seperti ‘dibodoh-bodohin’ dan ‘ditolol-tololin’. Atas hal itu, Dwi pun merasa sakit hati dan timbul niat untuk membunuh korban.

 

Selanjutnya pada Rabu (23/8) malam, Dwi bermaksud melancarkan aksinya membunuh Wahyu. Saat itu, ia berjalan menuju tempat tinggal sementara Wahyu yang berada di komplek Perumahan Graha Sejahtera, Desa Tempel, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, dengan membawa sebilah pisau pemotong daging, sarung tangan medis, dan buff penutup wajah.

 

Berhasil masuk ke dalam rumah, Dwi melihat korban sedang tertidur di ruang tamu dan lantas menempelkan pisau itu ke leher, dengan tujuan agar Wahyu diam dan tak berteriak. Namun, Wahyu Dian rupanya terbangun dan berteriak.

Proses olah TKP oleh Polres Sukoharjo, Kamis (24/8/2023). (Foto: dok. Polres Sukoharjo)

Melihat respons Wahyu, Dwi lantas menekan leher korban dengan jempolnya selama kurang lebih lima menit sampai Wahyu merasa lemas. Dwi pun mengancam akan benar-benar membunuh Wahyu jika ia melawan.

 

“Kamu pilih diam dan tak biarkan hidup, atau kamu berteriak dan tak habiskan sekarang,” kata Dwi.

 

Selanjutnya, tanpa pikir panjang Dwi langsung menghabisi nyawa Wahyu dengan menusuk dan menyabetnya.

 

Setelahnya, Wahyu yang sudah tak bernyawa ditutup dengan kasur lantai. Kemudian Dwi membersihkan pakaiannya yang ternoda darah di kamar mandi dan langsung keluar dari rumah dengan melompat pagar.

“Pakaian yang telah digunakan untuk menghabisi nyawa korban dimasukkan ke dalam plastik. Lantas, pelaku keluar menggunakan sepeda motor Supra X menuju persawahan Lor Dewo. Di sana pelaku membakar pakaian yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban,” terang Kapolres.

 

• (Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *