Pemprov DIY Nonaktif-Sementarakan Kepsek Dan Tiga Guru SMAN 1 Banguntapan Bantul

  • Whatsapp

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banguntapan Bantul DIY, Agung Istianto saat dikonfirmasi pewarta di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DIY, Senin (1/8/2022).

YOGYAKARTA (DIY), media3.id- Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akhirnya mengambil keputusan untuk menonaktifkan sementara tiga guru dan Kepala SMAN 1 Banguntapan, Bantul.
Keempatnya dinilai terlibat dalam dugaan kasus pemaksaan berjilbab terhadap salah seorang siswi baru.

Read More

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY Didik Wadaya mengatakan keputusan itu sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2015 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

“Pertimbangan ini dalam rangka memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan agar lebih fokus dan konsentrasi, serta tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar sampai diterbitkannya keputusan administrasi,” ucap Didik, Kamis (4/8/2022).

Kepada siswi yang diduga dipaksa memakai jilbab, kata dia, diberikan kesempatan untuk tetap bersekolah di SMA Negeri 1 Banguntapan atau ditempatkan di sekolah lain sesuai dengan formasi pada rombongan belajar. Didik menegaskan kebijakan itu tetap mempertimbangkan masukan dari orang tua dan psikolog pendamping dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Kota Yogyakarta.

Sementara itu Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan kebijakan yang diterapkan di SMAN Negeri 1 Banguntapan mengenai pilihan busana untuk siswa muslim dengan hanya menyediakan jilbab jelas melanggar Peraturan Mendikbud.

Sebab, menurut Sri Sultan, pemakaian jilbab tidak boleh dipaksakan. Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengatakan seharusnya anak tetap dipertahankan di sekolah tersebut, dan sebaliknya guru atau kepala sekolahnya yang terlibat seharusnya dipindah.

“Yang salah bukan anaknya, yang salah itu kebijakan (SMAN 1 Banguntapan) itu melanggar. Mengapa yang dipindah anaknya, yang harus dipindah itu guru atau kepala sekolah yang memang memaksa itu, ini pendapat saya,” ucap Sultan di Kompleks Kepatihan, Kamis (4/8/2022).

Sri Sultan menambahkan persoalan yang terjadi bukan pada anak melainkan kebijakan sekolah yang cenderung memaksa siswa menggunakan jilbab. Sehingga yang harus ditindak adalah pihak yang terlibat dalam persoalan tersebut. Dirinya inginkan kasus tersebut ditangani dan dituntaskan.

“Malah yang dikorbankan anaknya suruh pindah, persoalan bukan di situ, persoalan itu salahnya sekolah itu. Jadi harus ditindak, saya enggak mau pelanggaran seperti ini didiamkan” tegasnya.

Melalui keterangan tertulis, ibu siswi yang dipaksa kenakan jilbab Herprastyanti Ayuningtyas menjelaskan kronologi ia mengetahui bahwa anaknya telah dipaksa berjilbab oleh oknum guru di SMAN 1 Banguntapan. Dia bercerita bahwa putrinya merupakan seorang atlet sepatu roda yang kuat dan tidak lemah. Diterima di SMAN 1 Banguntapan melalui prosedur yang benar.

“Saya dan ayahnya bercerai, tetapi kami tetap bersama mengasuh anak kami,” tulisnya.

Herprastyanti mengaku pertama kali mendengar kabar buruk ini pada Selasa (26/7) saat anaknya menelepon, tetapi tidak bersuara. Setelah itu, putrinya mengirimkan pesan singkat, “Mama ak mau pulang, ak ga mau dsni.”

Dia pun bergegas menjemput anaknya yang sudah dibawa ke ruang unit kesehatan sekolah (UKS).

Herprastyanti mengatakan saat itu kondisi putrinya dalam keadaan lemas dan menangis. Sejak itulah putrinya secara perlahan bercerita bahwa telah dipaksa mengenakan jilbab oleh beberapa guru. Herprastyanti mengatakan anaknya sudah menolak, tetapi pihak guru terus mempertanyakan mengapa menolak mengenakan jilbab.

Herprastyanti menegaskan bahwa sebagai seorang ibu yang mengenakan jilbab, dia tidak pernah memaksakan putrinya untuk berjilbab. Dia juga tidak terima dengan tudingan pihak sekolah yang menyebut anaknya histeris karena masalah keluarga.

Sebelumnya, SMA Banguntapan 1 membantah telah melakukan pemaksaan kepada siswa untuk menggunakan jilbab oleh guru bimbingan konseling (BK).

Kepala Sekolah SMA Banguntapan 1 Agung Istiyanto membantah bahwa pihaknya memaksa siswa untuk menggunakan jilbab.

Guru BK yang diduga melakukan pemaksaan hanya sebatas mengajarkan cara menggunakan jilbab.

“Pada intinya sekolah kami tidak seperti yang ada di pemberitaan sebab tidak mewajibkan yang namanya jilbab,” katanya saat dimintai klarifikasi di Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (1/8/2022).

• (Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *