Vaksin Sinovac Aman Dan Orang Pernah Terinfeksi Covid19 Tidak Perlu Divaksin Covid19

  • Whatsapp

dr. Deshinta Putri Mulya

Editor: Shaleh Rudianto

Yogyakarta, Media3.id- Ahli Imunologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Deshinta Putri Mulya, M.Sc., Sp.PD, KAI(K), memaparkan pada orang yang pernah terinfeksi Covid-19 dan dinyatakan sembuh tidak perlu diberikan vaksin, sebab telah mendapat antibodi. Oleh karena itu, tidak masuk dalam kelompok prioriotas untuk diberikan vaksin.
“Yang sudah pernah terkonfirmasi positif Covid-19 dan sembuh tidak usah divaksin,” katanya dalam talkshow tentang Vaksin Covid-19 yang diselenggarakan RSA UGM secara daring Rabu (13/1/2021) lalu.

Deshinta menuturkan pada tubuh manusia yang telah terpapar virus Covid-19 sudah membuat sistem kekebalan tubuh atau antibodi.

“Logikanya yang terkonfirmasi Covid-19 dan sembuh sudah punya antibodi,” terangnya.

Kepala Divisi Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM ini menyebutkan bahwa orang sehat menjadi kelompok prioritas sebagai penerima vaksin. Sebelum divaksin, penerima vaksin diskrining terlebih dahulu terkait kondisi tubuh seperti suhu tubuh, tekanan darah, serta riwayat penyakit.

Dalam pemberian vaksin, lanjutnya, penerima vaksin harus benar-benar dalam kondisi sehat dan tidak demam. Apabila demam dengan suhu lebih dari atau sama dengan 37,5 derajat Celcius maka vaksinasi ditunda hingga sembuh dan tidak terbukti terinfeksi Covid-19 serta dilakukan skrining ulang pada kunjungan vaksin berikutnya.

Sementara pada orang-orang dengam penyakit tertentu seperti TBC, hipertensi, diabetes, HIV dan lainnya dapat diberikan vaksin, namun harus dalam kondisi terkontrol. Misalnya, pada pasien TBC dalam pengobatan bisa diberikan vaksin minimal 2 minggu setelah mendapat obat anti tuberkolosis. Lalu, pada pasien DM tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5% dapat diberikan vaksin. Berikutnya, untuk pasien dengan HIV jika angka CD4 < 200 atau tidak diketahui maka vaksinasi tidak diberikan.

“Vaksin Covid-19 tidak bisa diberikan untuk pasien autoimun, gagal ginjal, serta wanita hamil,” katanya.

Lebih lanjut Deshinta memaparkan pemberian vaksin akan menimbulkan efek samping, tetapi tidak berat. Reaksi yang muncul biasanya bersifat lokal ataupun sistemik. Reaksi lokal yang umumnya muncul beberapa diantaranya kemerahan, bengkak, nyeri pada area suntikan, dan selulitis. Sedangkan reaksi sistemik antara lain demam, nyeri otot seluruh tubuh, nyeri sendi, badan lemah, serta sakit kepala.

Sementara itu, Prof. Dr. Zullies Ikawati mengatakan vaksin Sinovac yang dinyatakan memiliki efikasi 65,3 persen dinyatakan aman. Meski memiliki efek samping, tetapi ringan dan bersifat reversible. Kekhawatiran terkait antibody-dependent enhancement (ADE) seperti yang banyak disebut di beberapa media sosial dan menjadi ketakutan banyak orang tidak terjadi pada uji klinik Sinovac di Indonesia maupun di Turki dan Brazil.

Ketua Program Studi S3 Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi UGM ini menjelaskan vaksin dengan efikasi atau kemanjuran 65,3 persen dalam uji klinik berarti terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi (atau plasebo) dan itu didapatkan dalam suatu uji klinik yang kondisinya terkontrol. Dia menggambarkan semisal uji klinik Sinovac di Bandung yang melibatkan 1.600 orang terdapat 800 subjek yang menerima vaksin, dan 800 subjek yang mendapatkan placebo (vaksin kosong).

Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3.25 persen), sedangkan dari kelompok placebo ada 75 orang yang kena Covid (9.4 persen) maka efikasi dari vaksin adalah = (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100 persen= 65.3 persen. Jadi, yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak.
“Efikasi ini akan dipengaruhi dari karakteristik subjek ujinya. Jika subjek ujinya adalah kelompok risiko tinggi maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat,” jelasnya.

“Jika subjek ujinya berisiko rendah dan banyak tinggal di rumah, apalagi taat dengan prokes, sangat boleh jadi pada kelompok placebo-pun tidak banyak yang terinfeksi. Hal ini menyebabkan perbandingan kejadian infeksi antara kelompok plasebo dengan kelompok vaksin menjadi lebih rendah yang pada gilirannya menghasilkan angka efikasi vaksin yang lebih rendah. Selain itu, mungkin juga ada faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap hasil uji kliniknya,” paparnya.

Menurut Zullies penurunan kejadian infeksi sebesar sekitar 65 persen secara populasi tentu akan sangat bermakna dan memiliki dampak ikutan yang panjang. Dari 100 juta penduduk Indonesia jika tanpa vaksinasi ada 8,6 juta yang bisa terinfeksi, jika kemudian turun 65 persen dengan vaksinasi maka artinya menjadi hanya 3 juta penduduk yang terinfeksi.

Prof. Dr. Apt. Zullies Ikawati
(Fotografer: Ika dan Agung)

Hitungannya (0.086 – 0.03)/0.086 x 100 persen= 65 persen sehingga ada 5,6 juta kejadian infeksi yang dapat dicegah. Mencegah 5 jutaan kejadian infeksi tentu sudah sangat bermakna dalam penyediaan fasilitas perawatan kesehatan. Belum lagi secara tidak langsung bisa mencegah penularan lebih jauh bagi orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin yaitu jika dapat mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

Hasil efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3 persen sesungguhnya justru langkah bagus untuk memulai apalagi batasan minimal FDA, WHO dan EMA untuk persetujuan suatu vaksin adalah 50 persen. Artinya, secara epidemiologi menurunkan kejadian infeksi sebesar 50 persen itu sudah sangat berarti dan menyelamatkan hidup banyak orang.•


(Reporter: Ika dan Agung Nugroho,)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.