Hasil Dari Pemeriksaan Saksi Yanti Rahmayanti Dan Dominikus Diambil Sampling Suara.

  • Whatsapp

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri

CIMAHI, MEDIA3.ID – Keterkaitan masalah Operasi Tangkap Tangan terhadap Walikota Cimahi Ir H. Akay Mochamad Priatna, MM, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada hari Jum’at tanggal 27 November 2020 yang lalu.

Dimana Ajay yang ditetapkan sebagai tersangka diduga menerima suap proyek perizinan sebesar Rp 3,2 Milyar, dari pihak Komisaris Utama Rumah Sakit Kasih Bunda Hutama Yonathan.

Berdasarkan informasi dari masyarakat, akan adanya dugaan terjadinya penerimaan sejumlah uang oleh pihak penyelenggara Negara (Walikota-Red), Ajay M Priatna dari Komisaris Utama RS Kasih Bunda Hutama Yonathan, KPK mendapatkan kabar tersebut dari masyarakat pada tanggal 26 November 2020.

Dari hasil informasi tersebut, bahwa rencana penyerahannya melalui perantaraan Cynthia Gunawan (CG) sebagai perwakilan dari RSU KB dan Yanti Rahmayanti (YR) sebagai orang kepercayaan dari Ajay.

Penyerahan uang akan dilakukan pada hari Jum’at tanggal 27 November 2020, sekitar jam 10.00 Wib di salah satu rumah makan di Bandung.

Selanjutnya CG menemui YR dengan membawa tas plastik putih yang diduga berisi uang tunai dan diserahkan kepada YR.

Setelah itu sekitar pukul 10.40 Wib Tim KPK mengamankan CG dan YR.

Tim KPK juga mengamankan pihak-pihak lain dibeberapa tempat di Kota Cimahi untuk selanjutnya, pihak-pihak yang diamankan beserta uang dengan jumlah Rp 425 juta dibawa ke KPK sebagai barang bukti untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil tangkap tangan ini ditemukan uang sejumlah Rp 425 juta dan dokumen keuangan dari pihak RSU KB. 4. Konstruksi perkara, diduga telah terjadi :

Tahun 2019, Rumah Sakit Umum Kasih Bunda melakukan pembangunan penambahan Gedung, kemudian diajukan permohonan revisi IMB kepada Dinas Badan Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) Kota Cimahi, untuk mengurus perijinan pembangunan tersebut, Hutama selaku pemilik RSU KB bertemu dengan Ajay selaku Walikota Cimahi di salah satu Restoran di Bandung

Pada pertemuan tersebut Ajay di duga meminta sejumlah uang sebesar Rp 3,2 Miliar yaitu sebesar 10% dari nilai Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang dikerjakan oleh Subkontraktor pembangunan RSU KB senilai Rp 32 Miliar.

Penyerahan uang akhirnya disepakati akan diserahkan secara bertahap oleh CG selaku staf keuangan RSU KB melalui YR selaku orang kepercayaan Ajay.

Untuk menyamarkan adanya pemberian uang kepada Ajay, tersebut, pihak RSU KB membuat rincian pembayaran dan kuitansi fiktif seolah-olah sebagai pembayaran pekerjaan fisik.

Pembangunan, pemberian kepada Ajay, telah dilakukan sebanyak 5 kali di beberapa tempat hingga berjumlah sekitar Rp1, 661 Miliar dari kesepakatan Rp 3,2 Miliar.

Pemberian telah dilakukan sejak tanggal 6 Mei 2020 sedangkan pemberian terakhir sisanya pada tanggal 27 November 2020 sebesar Rp 425 juta.

Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan sebelum batas waktu 24 jam sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dilanjutkan dengan gelar perkara.

KPK akhirnya menyimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji oleh Penyelenggara Negara terkait perizinan di Kota Cimahi Tahun Anggaran 2018-2020.

KPK menetapkan 2 (dua) orang Tersangka, sebagai Penerima, Ajay Mochamad Priatna, sebagai Pemberi Hutama Yonathan (HY). Para Tersangka tersebut disangkakan Sebagai Penerima :

Disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan.

Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sebagai Pemberi Disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Saat ini KPK pun terus mengumpulkan bukti-bukti baru daribberbagai saksi-saksi yang sudah diperiksa.

Seperti pemeriksaan saksi terhadap Yanti Rahmayanti yang merupakan Karyawan PT. Trisakti Manunggal Perkasa Internasional (TMPI).

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri, bahwa setelah didalami pengetahuannya oleh pihak penyidik, akan keterkaitannya saksi dengan dugaan persiapan dan penyerahan sejumlah dana kepada tersangka Ajay M Priatna,

“Pihak penyidik sekaligus melakukan pengambilan sampling suara,” ucap Ali.

Juga terhadap saksi kedua yaitu Dominikus Djoni Hendarto dari pihak Swasta,

“Inipun setelah dikonfirmasi masalah keterkaitan mengenai proyek yang dikerjakan oleh saksi di Rumah Sakit Kasih Bunda,” imbuhnya.

Sedangkan tersangka Ajay, diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Hutama Yonathan, dari pihak Penyidik telah melakukan pengambilan sampling suara terkait dengan dugaan komunikasi percakapan antara saksi dengan pihak-pihak tertentu.

(Sinta/Bagdja)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.