Dari Masa Ke Masa Geng-geng Remaja Di Yogyakarta

  • Whatsapp

Yogyakarta, Media3.id- Aksi brutal sejumlah remaja geng Get in Wrong Side (GNWS) di depan sebuah toko seluler di Jalan Bougenville, Karangasem, Santren, Caturtunggal, Depok, Sleman pada Minggu (6/12/2020) pukul 05.00 wib pagi yang baru lalu menjadi fakta terkini mengenai cerita panjang keberadaan geng-geng remaja di Yogyakarta. Membacok dan melindas korbannya dengan menggunakan sepeda motor merupakan cara yang dilestarikan untuk melumpuhkan korban.

Beberapa waktu sebelumnya ada klitih (Klithih; Jawa). Bagi warga Yogyakarta, keberadaan klitih meresahkan, membuat tidak nyaman, mencoreng citra Yogyakarta dan lainnya. Klitih identik dengan hal negatif, yaitu kenakalan yang dilakukan anak usia remaja, atau pelajar.
Klitih kembali mengemuka dan setidaknya ada enam kasus klitih dalam sebulan terakhir dengan metode pelaku melukai korban dengan senjata tajam. Di Kota Yogyakarta terjadi dua kali, tepatnya di Jalan Balairejo Kalurahan Muja Muju Kecamatan Umbulharjo dan Jalan Brigjend Katamso Gondomanan. Di Kabupaten Sleman ada tiga kejadian dalam satu malam, yakni di Jalan Angga Jaya Kalurahan Condongcatur, Jalan Perumnas Gorongan Kalurahan Condongcatur dan Jalan Moses Gatutkaca Condong Catur. Di Bantul kejadian di Jalan Siluk-Panggang, Kecamatan Imogiri.

Kenakalan pelajar di Yogyakarta sudah ada sejak dulu, tapi namanya bukan klitih. Karena setiap zaman, memiliki nama dan kenakalan yang berbeda. Di era 1990-an, di Yogyakarta ada dua geng pelajar, Joxzin dan Q-zruh atau JXZ dan QZR. Peta basis massa kedua geng ini jelas. Joxzin menguasai Yogyakarta bagian selatan, yang berbasis di Kauman, Karangkajen dan Kotagede. Q-zruh mendominasi di Yogyakarta bagian utara yang memiliki basis di daerah Terban Gondokusuman, Jalan Magelang, Jalan Solo.

Menariknya, dua geng besar yang legendaris ini jarang atau bahkan belum pernah bentrok. “Setahu saya belum pernah bentrok. Mungkin person anggotanya pernah, tapi tidak membawa bendera masing-masing, tidak mengatasnamakan Joxzin dan Q-zruh,” kata Isnawan (Mas Is) wartawan senior Yogyakarta kepada Media3.id, Selasa (15/12/2020).

Menurut mas Is, dua geng ini seperti saling menghormati satu sama lain. Jika Joxzin lagi masalah dengan geng lain, Q-zruh memilih diam. Begitu juga saat Q-zruh punya masalah dengan geng lain, Joxzin juga memilih tidak memihak. Kenakalan era Joxzin dan Q-zruh dengan klitih sekarang ini berbeda. Perbedaan mencolok terletak pada nyali. Dulu orang berani berantem atau bentrok itu karena punya nyali, punya keberanian. “Kalau sekarang, pelaku klitih itu tidak punya nyali. Bawa senjata tajam itu bukti kalau sebenarnya tidak punya nyali,” kata mas Is.

Salah seorang pendiri Joxzin, Nurzani Setiawan mengatakan klitih berbeda dengan geng anak muda zaman dulu, baik dari motivasi, pelaku, pola berkelahian maupun target. “Dulu, ketika anak-anak berkelahi jarang sekali menggunakan senjata walaupun harus kontak fisik secara langsung, dengan keberanian tinggi tanpa pengaruh alkohol,” kata Mas Inung, sapaan akrabnya.

Sekarang ini, kata dia, faktanya sudah berbeda, klitih banyak kasus terjadi dengan pelaku di bawah pengaruh alkohol. “Selain itu cara mereka asal nyabet target dengan senjata tajam, nyabet orang yang tidak dikenal itu kan ngawur,” katanya.
Menurutnya, anggota geng Joxzin rata-rata memiliki bekal bela diri. Mereka mayoritas dari pelajar dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kota Yogyakarta. “Mereka bisa tapak suci (bela diri), kalau berkelahi mengetahui bagian tubuh mana yang harus diserang, tanpa menggunakan senjata, tanpa pengaruh alkohol atau minuman keras,” ungkap mas Inung.

Dia menjelaskan pada era 80-an saat Joxzin terbentuk, diawali dari komunitas olah raga sepatu roda. Nama Joxzin sendiri diawali dari sekumpulan anak-anak yang saat itu sering berkumpul di Pojok Benzin di Alun-alun Utara Yogyakarta. Awalnya hanya komunitas kecil olaha raga sepatu roda, namun terus membesar hingga akhirnya ada banyak coretan atau vandalisme di tembok-tembok.

Selaku pendiri Joxzin, Inung mengaku prihatin dengan kasus klitih di Yogyakarta. Sebagai solusi mengatasi kasus klitih, Inung memberikan tiga langkah solusi. Pertama, perbaiki kurikulum pendidikan dengan mamasukkan mata pelajaran budi pekerti di sekolah mulai dari tingkat TK sampai SMA.
Berikutnya, perkuat pendidikan keluarga serta perketat peredaran segala bentuk minuman beralkohol. “Nah, saya melihat khususnya Perda di Sleman dan Bantul, masih lemah dalam menangani minuman keras atau peredaran segala macam pil terlarang,” pungkasnya.


(Shaleh Rudianto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.