Realisasi Tol Jogja-Solo Tahapi Musyawarah Dan Pencairan Ganti Untung Bagi Warga Terdampak

  • Whatsapp

Simpang Empat Monjali di ring road utara tetap dipertahankan posisinya meskipun tersebut realisasi jalan tol Jogja-Solo.

Yogyakarta, Media3.id- Sejak Jum’at (4/12/2020) yang lalu, realisasi proyek Tol Yogya-Solo memasuki fase musyawarah dengan warga yang tanahnya atau rumahnya tergusur.
Terakhir, telah diadakan musyawarah penetapan ganti untung bagi warga di Padukuhan Kadirojo 2 dan Temanggal 2, Kalurahan Purwomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Proses musyawarah dibagi dalam beberapa tahap.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Kementerian PUPR Totok Wijayanto, mengatakan pada dua padukuhan tersebut terdapat 294 bidang, yang pada tahap pertama ada 50 bidang yang sudah menerima ganti untung dengan nominal Rp 67 miliar. “Dan estimasi dari 294 bidang itu mencapai Rp 400 miliar”, ucapnya.

Musyawarah penetapan harga seperti pada dua dukuh tersebut, jelas Totok, dilakukan setelah menyelesaikan serangkaian tahapan, termasuk tahapan masa sanggah. “Masa sanggah dilakukan untuk perbaikan apabila terdapat hal-hal yang tidak tepat ketika dilakukan inventarisasi dan validasi. Setelah masa sanggah selesai, maka tim apraisal melakukan penghitungan. Setelahnya dilanjutkan dengan musyawarah penetapan harga ganti untung”, papar Totok.

Pejabat Pembuat Komitmen Satuan Kerja Pelaksana Jalan Bebas Hambatan Tol Jogja-Solo, Totok Wijayanto.

Di tempat terpisah, Kepala Dukuh Temanggal 2 Kalurahan Purwomartani, Ngadiyono, mengatakan pencocokan dilakukan sesuai data yang sebelumnya disampaikan oleh warga. “Data-data tersebut disusun oleh tim Satgas B kemudian disimak ulang oleh warga. Warga yang keberatan dengan hasil pendataan kemudian bisa mengajukan sanggahan atau perbaikan”, ucap Ngadiyono.

Lebih lanjut dikatakannya, di Dukuh Temanggal 2 terdapat 193 bidang yang terdampak jalan tol. Sebagian besar bidang terdampak berupa lahan sawah dan hanya sedikit yang berupa bangunan. “Dari jumlah tersebut, ada pemberkasan tiga bidang yang belum selesai karena terganjal masalah pembagian waris. Juga ada lahan yang pemiliknya sampai saat ini belum diketahui keberadaannya”, ungkap Ngadiyono.

Ngadiyono mengatakan pembebasan lahan di Temanggal 2 dan Kadirojo 2 diprioritaskan selesai tahun ini dan proses pembayaran ganti untung dilakukan Desember ini.

Kepala Dukuh Kadirojo 2 Petrus Budi Santosa bahkan mengatakan bahwa targetnya per 30 bidang bisa diselesaikan dalam tiga atau empat hari agar tuntas di tahun ini dan dana ganti untung bisa diterimakan di bulan Desember ini.

Terkonfirmasi dari staf PPK Satker PJBH Tol Jogja-Solo, Galih Alfandi bahwa kedua padukuhan tersebut diprioritaskan pembayaran ganti untung pada Desember 2020 ini.

Pada kesempatan lain Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) atau Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana DIY, Krido Suprayitno mengatakan pemberian ganti untung lahan terdampak tol diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sementara itu terkait gambar disain jalan tol, menyusul telah diterbitkannya Izin Penetapan Lokasi (IPL) oleh Gubernur DIY, Krido mengatakan selain pemasangan patok yang dilakukan dalam waktu tiga bulan dimulai pada Agustus lalu, dipastikan gambar desain konstruksi Jalan Tol Yogya-Solo sudah clear dan tidak berubah lagi.

Krido menjelaskan, proses pelaksanaan pembangunan harus melalui sejumlah tahapan, dimulai dari terbitnya IPL Gubernur DIY, kemudian diserahkan kepada pihak yang membutuhkan lahan yaitu Satuan Kerja Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (Satker PJBH) Tol Yogya-Solo, yang selanjutnya diserahkan kepada Kantor Wilayah (Kanwil)
Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY sebagai Panitia Pengadaan Lahan Satgas A dan Satgas B Jalan Tol di DIY.

Krido memaparkan, desain konstruksi Tol Jogja-Solo sudah sesuai dengan gambar yang ada di IPL Gubernur DIY, yang secara definitif tidak boleh berubah lagi. Karena itu, desain konstruksinya sudah clear sebab masyarakat yang terdampak juga sudah menyetujui secara teknis, sehingga tidak ada pembentukan Tim Keberatan. Pembangunan fisik jalan tol ini secara umum akan dibangun di atas jalan yang sudah ada dengan konstruksi melayang atau elevated setidaknya 45-55 persen.

“Polanya tidak lurus di atas Ringroad, namun tetap konstruksinya sebagian besar elevated. Konstruksi melayang didominasi di atas Selokan Mataram dan Ringroad, kecuali di Simpang Empat Monjali yang dibuat konstruksi at grade (di tanah), karena merupakan bagian yang dilalui sumbu filosofi. Fungsi Ringroad di Simpang Empat Monjali tetap dipertahankan dan tidak akan terputus. Hanya akan bergeser dengan perluasan ke jalur lambat ke arah utara dan selatan. Jadi adanya jalan tol tidak mengubah fungsi Ringroad”, pungkas Krido.


(Shaleh Rudianto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.