TAKKAN LOGIS BILA KPU CURANG

0
14
Philips J Vernemot, Direktur Persepsi Indonesia.

Yogyakarta, Media3.id-  Hoaks yang beredar mengenai tuduhan KPU curang dan meninggalnya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang terus beredar luas semakin menyebalkan dan sungguh keterlaluan.

Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU yang memperlihatkan real count dibuat sebagai proses transparansi, sehingga masyarakat dapat mengaksesnya kapan dan di mana pun. Jika ada kesalahan dari proses penghitungan suara, masyarakat bisa melaporkan kesalahan itu.

“Situng ini menjadi aksesibel buat publik dengan maksud transparansi. KPU taruh semua scanned C1 itu di web supaya kita semua bisa memeriksa. Jadi logikanya di mana kalau KPU secara sistematis mencurangi. Kalau mau curang, tidak akan KPU membuka akses untuk publik melihatnya”, kata Philips J. Vernemot, Direktur Persepsi Indonesia, dalam keterangannya pada Minggu, (12/5).

Menurut Philips, yang paling mungkin berbuat curang adalah para calon legislatif. Pasalnya, keberadaan mereka tersebar dan bisa fokus pada tempat pemungutan suara daerah pemilihannya. Sedangkan sebaliknya, jika untuk calon presiden, kata dia, agak sulit jika hendak berbuat curang.

“Mau mencurangi TPS seperti menggarami air laut. Ingat ada 813 ribu TPS di seluruh Indonesia, mengurus satu TPS saja sudah ada yang kelahi,” ujarnya.

Kemudian, mengenai 500 petugas yang meninggal dunia karena diracun, Philips mempertanyakan tujuannya. Dia pun menjelaskan, pada Pemilu 2019 tiap TPS hanya melayani 300 pemilih. Jumlah ini lebih sedikit ketimbang Pemilu 2014 yang bisa melayani 600 pemilih.

“Mari asumsikan 500 yang meninggal dunia itu tersebar di 500 TPS (satu TPS ada satu petugas meninggal dunia). Hitunglah suara yang mungkin dicurangi karena meninggalnya sang petugas: berarti 500 TPS dikali dengan 300 suara per TPS itu = 150 ribu suara,” ucap Philips.

Lebih lanjut, kata dia, dengan jumlah pemilih yang terdaftar sampai 190 juta orang dan tingkat partisipasi sekitar 81%, maka menurut quick count ada sekitar 154 juta suara yang diperebutkan. “Jadi ya 150 ribu suara itu secara jumlah bisa diabaikan,” katanya.

 (Shaleh Rudianto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here