Sentimen Intoleransi Tumbuh di Sekolah

0
52

Pesan-pesan intimidasi oknum rohani islam (rohis) SMAN 1 Gemolong Sragen, Jawa Tengah melalui aplikasi whatsapp (WA) terhadap siswi yang tak berhijab. Cerminkan karakter preman dogma.

Sragen, Media3.id- Sentimentalisme intoleransi kesukuan, agama, ras dan antar golongan (SARA) justru tumbuh di lingkungan pendidikan alias sekolah. Sebagaimana yang tercontohkan pada kasus seorang siswi di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Gemolong di Sragen, Jawa Tengah, yang mendapatkan intimidasi oleh oknum pengurus Kerohanian Islam (Rohis) sekolah setempat lantaran tidak mengenakan hijab.

Sentimentalisme intoleransi ini lantas melahirkan _preman dogma_, lantaran berdiri di balik dalih dogma alias dalil.
Intimidasi terhadap siswi Kelas X asal Kecamatan Miri di SMA Negeri 1 Gemolong empat hari silam itu dilakukan oleh oknum Rohis melalui pesan Whatsapp (WA). Pada awalnya, pesan tersebut disampaikan langsung ke nomor siswi berinisial Z tersebut.

Oknum pengurus Rohis itu terus menerus mengirimi pesan supaya Z mau menjalankan syariat Islam dengan cara berhijab. Hampir saban hari pesan masuk ke nomor ponselnya sehingga ia merasa terganggu.

“Karena anak saya merasa terganggu dengan pesan-pesan itu, saya meminta dia untuk memblokir nomor pengurus Rohis itu. Setelah diblokir, intimidasi itu ternyata tidak berhenti. Dia tetap mengirim pesan melalui nomor ponsel teman anak saya. Pesan itu lalu diminta disampaikan kepada anak saya,” ucap Agung, ayahanda siswi Z kepada Media3.id.

Saat Agung mengajak bertemu, oknum pengurus Rohis itu menolak. Oknum ini justru berkilah meminta Agung menemui guru Pendidikan Agama Islam (PAI), bukan dirinya.
Dalam pesan lain, oknum pengurus Rohis itu mengingatkan Z supaya berhijab karena hal itu adalah kewajiban. ” _Kandanono (dibilangin; red), hijab bukanlah pilihan yang dengannya dia bisa memilih, tapi kuwi kewajiban. Siap ora siap, kudu berhijab_.”

Dengan nada ancaman, oknum pengurus Rohis itu juga meminta Z tidak membawa masalah itu ke pimpinan sekolah. “ _INGAT, jangan sekali-kali bawa masalah ini ke sekolah dan sampai melapor ke kesiswaan karena ini masalah agama_.”

“Itu jelas ancaman. Apalagi kata “ingat” ditulis dengan huruf kapital. Masalah ini kan ada di sekolah, lalu mengapa tidak boleh di bawa ke sekolah,” ujar Agung mengomentari.

Selanjutnya, kasus intimidasi ini ditangani oleh sekolah dipimpin langsung kepala sekolah, dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala SMAN 1 Gemolong Suparno.
Mediasi antara kedua belah pihak telah dilaksanakan pada Senin (6/1) lalu. Dalam pertemuan tersebut, ungkap Suparno, orang tua siswa tersebut sepakat tidak membawa kasus tersebut ke jalur hukum. Bahkan, Suparno menyebut orang tua korban intimidasi menyumbang untuk pembangunan masjid.

“Pihak orang tua siswi yang bersangkutan malah berkomitmen menyumbang dana 10 juta rupiah untuk pembangunan masjid di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Sedangkan pihak sekolah diakui Suparno telah melakukan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut, pihak SMAN 1 Gemolong memperketat kegiatan rohis agar bisa diawasi oleh pihak sekolah.

Terpisah, Kepala Cabang Disdikbud Wilayah Jateng VI Eris Yunianto mengatakan setiap kegiatan kesiswaan sudah memiliki standar operasional prosedur. Dikemukakan Eris, munculnya kasus intoleransi di tingkat sekolah, menandakan ada sesuatu yang salah sehingga perlu dibenahi. Agar kasus serupa tidak terulang, dia meminta SOP kegiatan kesiswaan diperkuat.

“SOP harus diperkuat. Itu untuk pembenahan semua kegiatan kesiswaan. Setiap kegiatan siswa itu harus ada pendampingan. Rasio antara jumlah guru pendamping dan siswa harus diatur. Perlu ada standardisasi dalam tata kelola kegiatan kesiswaan. Penguatan SOP itu penting untuk meminimalkan peluang terjadinya kasus intoleransi di sekolah,” kata Eris melalui akun instagram pribadi.

Menurutnya, toleransi harus diutamakan sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan dan keutuhan NKRI.

“Tidak ada yang jelek dalam kegiatan kesiswaan. Anak-anak ini sedang mencari jatidiri. Apapun yang keluar dari koridor normatif ya akan kita benahi,” ucapnya memungkasi konfirmasi dengan Media3.id.

(Shaleh Rudianto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here