Jaksa Penuntut Umum Jelaskan Peran Sekdis Dalam OTT Kabid SMP Disdik Kab. Bandung

0
64

Kab Bandung,Media3.id – Sidang lanjutan Kasus operasi tangkap tangan (OTT) Kabid SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung H. Maman Sudrajat, S.Pd.,M.M, digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin 23 Maret 2020.

Dalam dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum Kejati Jabar, Mursito dan Adang Sukardi.

Maman Sudrajat didakwa tiga pasal di Undang-undang Pemberantasan Tipikor, yakni Pasal 12 huruf e, pasal 11 dan Pasal 5. Ancaman hukumannya, paling rendah 5 tahun paling lama 20 tahuns erta denda maksimal Rp 10 M dan paling rendah Rp 200 juta.

Dalam dakwaan jaksa, pada 2 Januari 2020 di‎ aula rapat Sekretaris Disdik, Adang Sujana  menanyakan pada Maman soal pengurusan dua kepala SMP bermasalah.

“Pak haji penyelesaian masalah belum selesai jadi bagaimana. Terdakwa mengatakan, jadi bagaimana pak. Dijawab Adang Sujana, kita minta bantuan saja ke sekolah yang dapat bantuan DAK TA 2019 yang nilainya di atas Rp 500 juta, saya minta datanya ya. Kemudian dijawab terdakwa, iya pak, akan saya carikan,” ujar Jaksa Adang Sukardi dalam dakwaannya seperti dikutip dari Tribun Jabar.

Maman memberikan data tersebut ke Adang dalam bentuk soft file. Namun, Adang meminta lagi datanya karena file rusak. Kemudian, terdakwa mengirim nama-nama SMP penerima DAK 2019 yang nilainya di atas Rp 500 juta.

Yakni SMP Pameungpeuk 1, Bina Taruna, Katapang 2, Cileunyi 3, Dayehkolot 2, Paseh 2, Cileunyi 2, Pacet 2, Nagreg 1 dan SMP Solokan Jeruk.

“Besoknya, saksi Adang Sujana mengirim pesan pada terdakwa yang isinya, enjing pagi di SMPN 1 Pameungpeuk. Lalu dibalas terdakwa, tos ngaos, siap,” kata Adang.

Kemudian,di tempat Graha Wira Karya Ciparay, saksi Kepala SMPN 2 Pacet Kamal Bustomo bertemu dengan Adang Sujana dan meminta agar memanggil Sutisna, Kepala SMP Bina Nusanrtara.

“Keduanya menemui Adang Sujana di pos satpam. Kemudian Adang memerintahkan saksi Sutisna untuk mengumpulkan kepala sekolah dengan kalimat, tis, besok kumpulkan 10 kepala sekolah,” ujar jaksa.

Adapun 10 kepala sekolah itu antara lain, SMP 1 Pameungpeuk, SMPN 2 Paseh, SMPN 2 Pacet, SMPN 2 Katapang, SMPN 2 Dayehkolot, SMPN 1 Nagreg, SMPN 2 Solokan Jeruk, SMPN 2 dan 2 Cileunyi.

Pada 3 Januari, saksi Adang Sujana menghubungi terdakwa untuk pergi ke SMPN 1 Pameungpeuk. Dari 10 kepala sekolah yang diajak bertemu, hanya Kepala SMPN 1 Nagreg yang tidak datang.

Dalam pertemuan itu, terdakwa menyampaikan pesan Adang Sujana soal permintaan uang yakni terkait pengurusan dua kepala sekolah bermasalah dan meminta mereka untuk mengatur uang Rp 60 juta. Selanjutnya, sembilan kepala sekolah berembug mengenai permintaan bantuan uang Rp 60 juta.

“Sehingga, diputuskan dibagi delapan kepala sekolah daan masing-masing kepala sekolah menyetor Rp 7,5 juta kecuali SMP 2 Solokanjeruk dan SMP 1 Nagreg yang bermasalah,” katanya.

Akhirnya, uang terkumpul Rp 52,5 juta dan dimasukan ke kantong plastik warna hitam dan disimpan di mobil terdakwa.

Saat terdakwa akan meninggalkan SMPN 1 Pameungpeuk, mobil dihentikan tim Satgas Saber Pungli Provinsi Jabar dan langsung mengamankan terdakwa beserta uang tunai Rp 52,5 juta.(Arbim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here